*_Yuk, Hadiri Kajian Sabtu-Ahad (KASAD) Shubuh bersama para Ustadz.._*✨
*Masjid Baitul Haq – Puri Gading*
🗓️ *Sabtu, 20 Juni 2026 / 5 Muharram 1448 H*
🎯 *Kajian Fiqih Kontemporer : Kewajiban Menunaikan Hak Sesama Muslim (bag.3)*
🎙️ *Pembicara : Ustadz Dr. Faisal Abdul Aziz, MA.*
======= =======
🗓️ *Ahad, 21 Juni 2026 / 6 Muharram 1448 H*
🎯 *Kajian Tafsir Ayat-ayat Dakwah*
🎙️ *Pembicara : Ustadz Dr. Muhammad Choirin, MA.*
=======
🕔 *Ba’da Shubuh Pkl. 05.00 WIB – Selesai*
📌 *Masjid Baitul Haq – Puri Gading*
~~~~~~~
📱 *Gabung Live Streaming :*
YouTube :
bit.ly/YouTube_MasjidBaitulHaq
*Social Media*
Facebook :
bit.ly/Facebook_MasjidBaitulHaq
Instagram :
bit.ly/Instagram_MasjidBaitulHaq
*Contact us*
Email :
hu***@ma***********************.com
WhatsApp Center :
+62852-1327-4473
*Website*
______________________________
*DKM Baitul Haq, Puri Gading*
_Jl. Puri Gading Raya, Jatimelati, Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat – Indonesia_
Kajian Tafsir Ayat-ayat Dakwah : Setiap Jiwa yang Membela Masa Depannya
Pembicara : Ustadz Dr. Muhammad Choirin, MA.
Link kajian sebelumnya :
QS Anahl : 111 -115
QS: 16 : 111 h.280
۞ يَوْمَ تَأْتِيْ كُلُّ نَفْسٍ تُجَادِلُ عَنْ نَّفْسِهَا وَتُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
yauma ta`tii kullu nafsin^ tujaadilu ′an nafsiHaa wa tuwaffaa kullu nafsim~ maa ′amilat wa Hum laa yuẓhlamuuuun
(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap orang datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi setiap orang diberi (balasan) penuh sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).
Ibnu katsir membahas : Ketika di hari kiamat orang datang sendirian, tidak ditemani, bahkan yang selama ini dibanggakan tidak bisa menemani, tidak bisa diwakili. Kita ini saat di dunia cenderung, kalau urusan tidak terlalu penting maka anak buah yang jalan. Bahkan penting sekalipun jika tidak da kaitannya dengan dirinya maka tidak datang.
Buya hamka me jelaskan : Ayat ini peringatan bahwa jika kita memiliki ketergantungan di dunia maka semua itu akan terlepas. Pada hari itu seseorang akan lari dari saudaranya. Padahal di dunia mereka mendekat. Ibu bapaknya, kawan dan anaknya, sama, akan menjauh. Setiap orang punya urusan masing-masing. Abasa : 34-37
QS: 80 : 34 h.585
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِ ۙ
yauma yafirrul-mar-u min akḣiiiiH
pada hari itu manusia lari dari saudaranya,
QS: 80 : 35 h.585
وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِ ۙ
wa um~miHii wa abiiiiH
dan dari ibu dan bapaknya,
QS: 80 : 36 h.585
وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِ ۗ
wa ṣhooḥibatiHii wa baniiiiH
dan dari istri dan anak-anaknya.
QS: 80 : 37 h.585
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِ ۙ
yauma yafirrul-mar-u min akḣiiiiH
pada hari itu manusia lari dari saudaranya,
Nasihat Ka’ab kepada khalifah umar : Wahai Amirul mukminin, kalau seandainya engkau datang pada hari kiamat memiliki amal yang sebanding Dengan 70 nabi, maka engkau tidak akan berpikir tentang apapun kecuali tentang dirimu saja. Di neraka jahanam itu ada satu tiupan/kebasan, kecuali nabi akan terjatuh berdiri di kedua lututnya, sampai seandainya nabi Ibrahim, dia akan berdoa, ya rob, saya ini kekasihmu Ibrohim tidak akan meminta kecuali untuk diri saya sendiri. Dan Umar bin khotob ketika mendengar nasihat itu ia mengatakan dimana kamu mendapatkan nasihat itu di dalam Qur’an? Kata ka’ab, ada yaitu an nahl : 111 diatas.
Ibnu Abas ketika mengomentari ayat ini annahl :111 perselisihan akan terus terjadi bahkan saat hari kiamat antara ruh dan jasad. Ruh akan berkata, ya rob ruh ini darimu dan engkau yang menciptakan dulu tidak punya tangan, kaki, mata, telinga, akal, sampai engkau menciptakan jasad, lalu aku dimasukan ke jasad itu, maka jasad itu melakukan perbuatan dosa, maka lipatkan siksa kepada jasad itu. Jasad berkata ya Allah engkau menciptakan aku, dulu aku seperti kayu yang tidak bisa berbuat apa apa, lalu engkau masukan ruh sampai aku bisa melakukan apa apa. Lipatgandakan siksaan pada ruh dan selamatkan aku.
Allah memberi perumpamaan pada ruh dan pisik : ada 2 orang yang satu buta yang satu lumpuh, meskipun buta tapi bisa mendengar, bisa berjalan. Yang lumpuh tapi bisa melihat, bisa bicara. Dua orang ini berkolaborasi, ingin makan buah, yang buta gendong yang lumpuh, yang lumpuh bisa menunjukan buah mana yang matang dan yang tidak. Mereka bisa makan buah yang tidak halal. Siksaan berlaku untuk keduanya. Ini menjelaskan ayat annahl : 111.
Kisah : di suatu kampung ada orang kaya, dikenal sebagai orang yang fakir karena pelit. Orang miskin tidak pernah merasakan harta orang tsb. Di kampung itu ada tukang daging, setiap hari ada daging yang dibagikan secara gratis, meskipun orang susah ia dikenal dermawan. Orang kaya meninggal, orang ngantri untuk mendapatkan daging gratis, kata tukang daging hari ini tidak da daging gratis karena yang biasa memberikan sudah meninggal. Orang kaya yang menitipkan hartanya ke tukang daging tidak ingin mendapatkan validasi dari orang bahwa dirinya dermawan.
Salah satu keadilan Allah adalah memberi pahala kepada orang baik dan menyiksa orang jahat.
Pertanyaan :
Kisah terakhir, apakah orang kedua atau tukang daging tidak kena masalah karena tidak bilang bahwa daging gratis itu dari orang kaya?
Berprasangka baik bahwa orangkaya bilang jangan bilang bahwa yang memberi daging adalah yang kaya. Dan tukang daging menjalankan amanah orang kaya dengan tidak membitahu kepada orang yang diberi daging.
Kondisi Orang beriman saat di akhirat ?
QS 40 : 8
QS: 40 h.468
رَبَّنَا وَاَدْخِلْهُمْ جَنّٰتِ عَدْنِ ِۨالَّتِيْ وَعَدْتَّهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۙ
robbanaa wa ad•kḣil-Hum jan~naati ′ad•ninillatii wa′attaHum wa man^ ṣholaḥa min aabaaaaa-iHim wa azwaajiHim wa dżurriyyaatiHim‚ in~naka an^tal-′aziizul-ḥakiiiim
Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang yang saleh di antara nenek moyang mereka, istri-istri, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana,
QS: 16 : 112 h.280
وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَىِٕنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللّٰهِ فَاَذَاقَهَا اللّٰهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ
wa ḍhoroballooHu matṡalanḡ~ qoryatanḡ~ kaanat aaminatam~ muṭh•ma-in~natay ya`tiiHaa rizquHaa roghodam~ minḡ~ kulli makaanin^ fa kafarot bi-an′umillaaHi fa adżaaqoHallooHu libaasal-juu′i wal-kḣoufi bimaa kaanuu yaṣhna′uuuun
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (pen-duduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.
QS: 16 : 113 h.280
وَلَقَدْ جَاۤءَهُمْ رَسُوْلٌ مِّنْهُمْ فَكَذَّبُوْهُ فَاَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ
wa laqod jaaaaa-aHum rosuulum~ min-Hum fa kadż·dżabuuHu fa akḣodżaHumul-′adżaabu wa Hum ẓhoolimuuuun
Dan sungguh, telah datang kepada mereka seorang rasul dari (kalangan) mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya, karena itu mereka ditimpa azab dan mereka adalah orang yang zalim.
QS: 16 : 114 h.280
فَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖ وَّاشْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
fa kuluu mim~maa rozaqokumullooHu ḥalaalan^ ṭhoyyibaw wašykuruu ni′matallooHi inḡ~ kun^tum iyyaaHu ta′buduuuun
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.
QS: 16 : 115 h.280
اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
in~namaa ḥarroma ′alaikumul-maitata wad-dama wa laḥmal-kḣin^ziiri wa maaaaa uḥilla lighoirillaaHi biH‚ fa maniḍhṭhurro ghoiro baaghiw wa laa ′aadin^ fa in~nallooHa ghofuurur roḥiiiim
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (hewan) yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah, tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya) bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
.
.
Link kajian di youtube hari ini :


