*_Yuk, Hadiri Kajian Sabtu-Ahad (KASAD) Shubuh bersama para Ustadz.._*✨
*Masjid Baitul Haq – Puri Gading*
🗓️ *Sabtu, 14 Juni 2025 / 18 Dzulhijjah 1446 H*
🎯 *Kajian Siroh Sahabat : Salman Al Farisi Radhiyallahu ‘anhu*
🎙️ *Pembicara : Ustadz Abdul Haris, Lc., MPd.*
======= =======
🗓️ *Ahad, 15 Juni 2025 / 19 Dzulhijjah 1446 H*
🎯 *Kajian Tafsir Tematik : Refleksi Ayat-ayat Dakwah (QS. Ibrahim : 4)*
🎙️ *Pembicara : Ustadz Dr. Muhammad Choirin, Lc., MA.*
=======
🕔 *Ba’da Shubuh Pkl. 05.00 WIB – Selesai*
📌 *Masjid Baitul Haq – Puri Gading*
~~~~~~~
📱 *Gabung Live Streaming :*
YouTube :
bit.ly/YouTube_MasjidBaitulHaq
*Social Media*
Facebook :
bit.ly/Facebook_MasjidBaitulHaq
Instagram :
bit.ly/Instagram_MasjidBaitulHaq
*Contact us*
Email :
[email protected]
WhatsApp Center :
+62852-1327-4473
*Website*
______________________________
*DKM Baitul Haq, Puri Gading*
_Jl. Puri Gading Raya, Jatimelati, Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat – Indonesia_
🎯 *Kajian Siroh Sahabat : Salman Al Farisi Radhiyallahu ‘anhu*
🎙️ *Pembicara : Ustadz Abdul Haris, Lc., MPd.*
Kajian sebelumnya dari beliau :
Dalam berdakwah, rosulullah ditemani para sahabat. Mereka membantu dakwah beliau, sehingga perlu diperkenalkan kepada generasi berikutnya sebagaimana para sahabat mengajarkan Qur’an dan hadits.
Rosululloh mendidik para sahabat Muhajirin dan anshor tentu ada perbedaan. Ada bangsa quraisy. Sebagai pemimpin. QS Al quraisy :
QS: 106 h.602
لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍ ۙ
li`iilaafi quroiiiišy
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
QS: 106 h.602
اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِ ۚ
iilaafiHim riḥlatašy-šyitaaaaa-i waṣh-ṣhoiiiif
(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.
Karakter Quraisy sebagai pemimpin. Sedangkan kaum anshor adalah loyalis pendukung setia rosululloh.
Sebelum tahun kedua kaum anshor diuji ketika akan perang badar. Mereka akhirnya mengikuti perang badar. Lalu ketika Rosululloh wafat diuji lagi siapa yang akan menjadi pemimpin, apakah pemilik tanah Madinah yaitu kaum anshor? Ternyata abu bakar kaum quraisy. Termasuk ujian harta ghonimah, rampasan perang, ada orang yang baru masuk Islam dari golongan Quraisy yang diberi 100 unta sementara kaum anshor tidak mendapat sebesar itu. Rosululloh menenangkan kaum Ansor dengan kata2, maukah kalian membawa ghonimah ke Madinah tetapi tanpa aku ikut dengan kalian? Tentu sahabat anshor memilih rosululloh bersama mereka.
Salman alfarisi, dari Al furs. Persia. Orangnya disebut alfarisi. Jauh dari Madinah. Irak. Dikenal abu Abdullah. Awalnya majusi, lalu Nasrani. Masuk Islam di Kuba.
Salman Alfarisi memberi ide menggali parit mengelilingi Madinah. Di perang khandak. Untuk melindungi dari serangan sekutu, kaum Quraisy dan suku suku yahudi. Madinah tidak bisa ditembus. Selama 27 hari sekutu berkemah, akhirnya abu Sufyan sebagai pemimpin pulang ke Makkah.
Albaqoroh : 62 satu ayat tentang Salman Al farisi
QS: 2 h.10
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِــِٕيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
in~nalladżiina aamanuu walladżiina Haaduu wan~naṣhooroo waṣh-ṣhoobi`iina man aamana billaaHi wal-yaumil-aakḣiri wa ′amila ṣhooliḥan^ fa laHum aj•ruHum ′in^da robbiHim‚ wa laa kḣoufun ′alaiHim wa laa Hum yaḥzanuuuun
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.
Beliau mengalami petualangan yang panjang sebelum sampai bertemu rosululloh. Mengalami pergolakan batin yang lama.
Saat menggali parit ada batu besar yang tidak bisa dipecahkan, akhirnya nabi sendiri yang memecahkan batu dengan 3x pukulan. Pukulan pertama ada api yang memancar dan rosul melihat tiga istana : Romawi, Persia, … Ini sebagai kabar gembira bahwa ketiganya akan ditaklukan.
Materi kajian dikonversi dari power point :
• Salman al-Farisi الفارسي سلمان adalah sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari Persia. Dikalangan sahabat lainnya ia dikenal dan dipanggil dengan nama Abu Abdullah.
• Salman al-Farisi pada awal hidupnya adalah seorang bangsawan dari Persia, sebagai seorang Persia ia menganut agama Majusi, tapi ia tidak merasa nyaman dengan agamanya.
• Ia menjadi muslim di Quba’ dan mulai mengikuti peperangan bersama Muhammad sebagai nabi dalam Islam pada Pertempuran Khandaq di Madinah dan menjadi penyusun strategi perang tersebut. Beberapa ahli tafsir Al-Qur’an menyatakan bahwa keislaman Salman al-Farisi menjadi penyebab turunnya ayat ke-62 dalam Surah Al-Baqarah.
QS: 2 h.10
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِــِٕيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
in~nalladżiina aamanuu walladżiina Haaduu wan~naṣhooroo waṣh-ṣhoobi`iina man aamana billaaHi wal-yaumil-aakḣiri wa ′amila ṣhooliḥan^ fa laHum aj•ruHum ′in^da robbiHim‚ wa laa kḣoufun ′alaiHim wa laa Hum yaḥzanuuuun
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.
• Kemudian ia mengalami pergolakan batin untuk mencari agama yang dapat menentramkan hatinya. Pencarian agamanya membawa hingga ke jazirah Arab dan akhirnya memeluk agama Islam.
• Ia menjadi pahlawan dengan ide membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam pertempuran khandaq. Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, ia dikirim untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya, hingga ia wafat.
• Dari Persi datangnya pahlawan kali ini. Dan dari Persi pula Agama Islam nanti dianut oleh orang-orang Mu’min yang tidak sedikit jumlahnya, dari kalangan mereka muncul pribadi-pribadi istimewa yang tiada taranya, baik dalam bidang kedalaman ilmu pengetahuan dan ilmuan dan keagamaan, maupun keduniaan.
• Dan memang, salah satu dari keistimewaan dan kebesaran al-Islam ialah, setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka dengan keajaiban luar biasa dibangkitkannya setiap keahlian, digerakkannya segala kemampuan serta digalinya bakat-bakat terpendam dari warga dan penduduk negeri itu, dokter-dokter Islam, ahli-ahli astronomi Islam, ahli-ahli fiqih Islam, ahli-ahli ilmu pasti Islam dan penemu-penemu mutiara Islam.
Suatu kali beliau diperintahkan oleh bapaknya untuk pergi ke Ladangnya. Salman bertemu dengan orang Nasrani dan mendengar apa yang dia baca dari kitabnya.
• Salman pun tertarik, dia juga tertarik pada akhlak orang itu. Akhirnya Salman berkesimpulan bahwa agama Nasrani lebih baik dari Majusi.
• Akhirnya dia minta agar orang Nasrani itu mau mengajaknya ke Syam untuk mempelajari dan mendalami agama Nasrani.
• Salman mendapatkan kesempatan untuk berangkat ke Syam dan tinggal di rumah seorang pendeta dan menjadi pelayannya tapi ternyata pendeta itu adalah pendusta.
• Dia menyuruh kaumnya bersedekah, tapi dia sendiri yang mengambil sedekah itu dan menyimpannya. Sampai akhirnya terkumpul beberapa karung emas dan perak di rumahnya dan Salman sangat mengetahui hal itu setelah pendeta itu wafat sehingga warga tidak mau menguburkannya karena benci dan marah.
• Pendeta itu digantikan dengan pendeta yang baik agama dan akhlaknya. Salman tinggal lama bersamanya dan melayaninya dengan baik. Setelah itu Salman berpindah pindah dari satu pendeta- ke pendeta yang lain.
• Karena Salman ingin tinggal bersama pendeta yang baik dan benar agamanya, yang masih murni seperti agama nabi Isa’alaihissalam.
• Sampai akhirnya ketika pendeta terakhir yang menjelang kematiannya, Salman bertanya; kepada siapakah engkau tunjukkan aku pendeta atau orang yang masih murni agamanya? Pendeta itu berkata; tidak ada lagi orang yang saya ketahu agamanya masih murni.
• Hanya saja sekarang sudah dekat waktunya seorang Nabi akan diutus oleh Allah Dia berasal dari bangsa arab dan tinggal di Makkah.
• Nantinya dia akan berhijrah ke daerah atau negeri yang diapit oleh dua buah gunung dan dipenuhi dengan kebun kurma, yang dimaksud adalah Madinah.
• Dia mempunyai tanda kenabian di punggungnya, dan dia tidak menerima sedekah tapi menerima hadiah.
• Salman mencari seseorang yang menemaninya pergi ke daerah yang ditunjukkan oleh pendeta itu. Sampai akhirnya Salman dijual dan dijadikan budak oleh orang Yahudi di Madinah.
• Setelah Salman perhatikan kondisi Yastrib atau Madinah saat itu. Salman bergumam inilah tempat yang pendeta saya maksud. Beliaupun tinggal bersama majikannya orang Yahudi beliau melayani setiap kebutuhan majikannya. Dan melaksanakan perintah-perintahnya dengan baik.
• Sampai suatu ketika Salman memanjat di sebuah pohon kurma, tiba-tiba sepupu majikannya datang dan berteriak sambil berkata:
Bahwa seorang Nabi terakhir telah diutus dari bangsa Arab berhijrah dari Makkah dan sekarang dia dan sahabatnya ada di Quba dan akan menuju ke sini (Yastrib/Madinah).
• Setelah kejadian itu, Salman segera mendatangi Nabi di Quba dan bertemu dengan beliau sambil membawa sedekah.
• Kemudian memberikan kepada beliau, namun Rasulullah menolaknya tapi menyuruh sahabatnya untuk makan.
• Salman berkata dalam hati, ini adalah tanda yang pertama karena dia tidak menerima sedekah.
• Besoknya, Salman mendatangi nabi lagi dan memberikan beliau hadiah, Rasulullah pun menerimanya. Salman bergumam, ini tanda kedua.
• Pada kesempatan ke tiga memastikan tanda ketiga yaitu tanda dipunggung beliau. Ketika Salman meminta kepada nabi untuk diperlihatkan punggungnya.
• Rasulullah pun memperlihatkan
kepada Salman, dan Salman pun melihat tanda kenabian itu persis seperti apa yang digambarkan oleh pendetanya dulu.
• Maka Salman pun langsung mengikrarkan dua kalimat syahadat, manyatakan diri masuk Islam
Sedekah adalah pemberian sukarela dari seorang muslim kepada yang berhak menerimanya tanpa batasan waktu dan jumlah, dengan niat ikhlas dan mengharap ridha Allah SWT serta pahala semata.
• Dalam Surah Yusuf ayat 88:
QS: 12 h.246
فَلَمَّا دَخَلُوْا عَلَيْهِ قَالُوْا يٰٓاَيُّهَا الْعَزِيْزُ مَسَّنَا وَاَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُّزْجٰىةٍ فَاَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَجْزِى الْمُتَصَدِّقِيْنَ
fa lam~maa dakḣoluu ′alaiHi qooluu yaaaaa ayyuHal-′aziizu massanaa wa aHlanaḍh-ḍhurru wa ji`naa bibiḍhoo′atim~ muzjaatin^ fa aufi lanal-kaila wa taṣhoddaq ′alainaa‚ in~nallooHa yaj•zil-mutaṣhoddiqiiiin
Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, “Wahai Al-Aziz! Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka penuhilah jatah (gandum) untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang yang bersedekah.”
• Artinya: Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: “Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.”
Menurut Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqih Sunnah, hibah memiliki pengertian secara bahasa berasal dari kata ‘hubub ar-rih’ yang berarti hembusan angin. Kata ini digunakan untuk merujuk pada pemberian dan kebajikan kepada orang lain, baik berupa harta maupun hal lainnya.
• Jika dilihat melalui istilah syariat, hibah adalah perjanjian pemberian kepemilikan oleh seseorang atas hartanya kepada orang lain selama dia masih hidup, tanpa ada pertukaran yang dilakukan.
Kata hadiah memiliki akar kata hadi yang memiliki makna penunjuk jalan, karena ia tampil di depan dan menyampaikan dengan lemah lembut. Dari sini muncul kata hidayah yang berarti penyampaian sesuatu dengan lemah lembut untuk menunjukkan simpati.
• Menurut Zakariya Al-Anshari, hadiah”adalah penyerahan hak kepemilikan harta benda tanpa meminta ganti rugi yang umumnya dikirimkan kepada penerima sebagai bentuk penghormatan.
Imam Syafi’i membagi pemberian seseorang kepada orang lain menjadi dua bagian: yang pertama terkait dengan kematian, yaitu wasiat, dan yang kedua dilakukan saat masih hidup.
Pemberian saat masih hidup ini memiliki dua
bentuk, yaitu hibah dan wakaf.
Hibah merupakan pemindahan kepemilikan yang murni, sedangkan sedekah sunnah dan hadiah juga termasuk dalam kategori ini. Perbedaan antara hadiah dan hibah adalah bahwa hadiah melibatkan pemindahan sesuatu yang dihadiahkan dari satu tempat ke tempat lain
Oleh karena itu, istilah hadiah tidak dapat digunakan dalam konteks kepemilikan properti. Namun, untuk benda-benda bergerak seperti pakaian, hamba sahaya, dan sejenisnya, semua hadiah dan sedekah dianggap sebagai hibah, tetapi tidak sebaliknya
Hibah di lain sisi dapat dikatakan sebagai perjanjian pemberian kepemilikan oleh seseorang atas harta atau asetnya kepada orang lain saat ia masih hidup. Hibah dilakukan tanpa ada pertukaran atau pembayaran yang diminta dari penerima. Hibah sering kali dilakukan sebagai bentuk penghormatan, penguatan silaturahmi, atau memuliakan penerima
Mengenai hadiah biasanya diberikan dan dapat berupa barang, uang, atau hal lain yang dianggap bernilai. Dalam konteks umum, sedekah dan hibah merupakan bentuk pemberian yang lebih luas, sementara hadiah memiliki makna yang lebih khusus dan terkait dengan penghargaan atau penghormatan tertentu.
• Ternyata bahwa pentolan-pentolan itu berasal dari setiap penjuru dan muncul dari setiap bangsa, hingga masa-masa pertama perkembangan Islam penuh dengan tokoh- tokoh luar biasa dalam segala lapangan, baik cita maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsanya, tetapi satu Agama.
• Dan perkembangan yang penuh berkah dari Agama ini telah lebih dulu dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan beliau telah menerima janji yang benar dari Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Mengetahui.
• Pada suatu hari diangkatlah baginya jarak pemisah dari tempat dan waktu, hingga disaksikannyalah dengan mata kepala panji- panji Islam berkibar di kota-kota di muka bumi, serta di istana dan mahligai-mahligai para penduduknya.
• Salman radhiyallahu ‘anhu sendiri turut menyaksikan hal tersebut, karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu. Peristiwa itu terjadi waktu perang Khandaq, yaitu pada tahun kelima Hijrah.
• Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekah menghasut orang-orang musyrik dan golongan- golongan kuffar agar bersekutu menghadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Kaum Muslimin, serta mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan yang akan menumbangkan serta mencabut urat akar Agama baru ini.
• Siasat dan taktik perang pun diaturlah secara licik, bahwa tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerang-nya dari dalam — yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimin sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenanya mereka akan hancur lumat dan hanya tinggal nama belaka.
• Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah, membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin panik dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga- duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al- Quran sebagai berikut:
QS: 33 h.419
اِذْ جَاۤءُوْكُمْ مِّنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ اَسْفَلَ مِنْكُمْ وَاِذْ زَاغَتِ الْاَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوْبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ الظُّنُوْنَا۠ ۗ
idż jaaaaa`uukum~ min^ fauqikum wa min asfala minḡ~kum wa idż zaaghotil-ab•ṣhooru wa balaghotil-quluubul-ḥanaajiro wa taẓhun~nuuna billaaHiẓh-ẓhunuunaa
(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah.
• Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah. (Q.S. 33 al-Ahzab:l0)
• 10.000 orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Agama serta para shahabatnya.
• Pengepungan Madinah, terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah atau pada tahun 627 Masehi.
• Pengepungan tersebut dimulai pada 31 Maret
627, dan berakhir setelah 27 hari
• Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka. Dan peristiwa ini merupakan percobaan akhir dan menentukan dari fihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan, maupun dari suku dan golongan.
• Kaum Muslimin menginsafi keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-pun mengumpulkan para shahabatnya untuk bermusyawarah. Dan tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu?
• Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
• Itulah dia Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu!’
• Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar Madinah, dan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya kota itu di lingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng juga layaknya. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.
• Di negerinya Persia, Salman radhiyallahu ‘anhu telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh
orang-orang Arab dalam peperangan mereka
selama ini. Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota.
• Dan hanya Allah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit atas usul Salman radhiyallahu ‘anhu tersebut.
• Demi Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota.
• Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta’ala mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka … dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit …
• Sewaktu menggali parit, Salman radhiyallahu ‘anhu tidak ketinggalan bekerja bersama Kaum Muslimin yang sibuk menggali tanah. Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ikut membawa tembilang dan membelah batu. Kebetulan di tempat penggalian Salman radhiyallahu ‘anhu bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada sebuah batu besar.
• Salman radhiyallahu ‘anhu seorang yang berperawakan kuat dan bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedang bantuan dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka.
• Salman radhiyallahu ‘anhu pergi mendapatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan minta idzin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pergi bersama Salman radhiyallahu ‘anhu untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tadi.
• Dan setelah menyaksikannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta sebuah tembilang dan menyuruh para shahabat mundur dan menghindarkan diri dari pecahan- pecahan batu itu nanti….
• Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya ke batu besar itu. Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi. “Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah”, kata Salman radhiyallahu ‘anhu, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan takbir, sabdanya:
• Allah Maha Besar! aku telah dikaruniai kunci- kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana- istana kerajaan Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua itu.
• Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tembilang itu kembali dan memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya. Maka tampaklah seperti semula tadi. Pecahan batu besar itu menyemburkan lambaian api yang tinggi dan menerangi, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir sabdanya:
• Allah Maha Besar! aku telah dikaruniai kunci- kunci negeri Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya.
• Kemudian dipukulkannya untuk ketiga kali, dan batu besar itu pun menyerah pecah berderai, sementara sinar yang terpancar daripadanya amat nyala dan terang temarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengucapkan la ilaha illallah diikuti dengan gemuruh oleh kaum Muslimin.
• Lalu diceritakanlah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau sekarang melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan’a, begitu pun di daerah- daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar. Maka dengan keimanan penuh Kaum Muslimin pun serentak berseru: Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya Dan
benarlah Allah dan Rasul-Nya.
Link YouTube hari ini :

