*_Yuk, Hadiri Kajian Sabtu-Ahad (KASAD) Shubuh bersama para Ustadz.._*✨
*Masjid Baitul Haq – Puri Gading*
🗓️ *Sabtu, 19 Juli 2025 / 23 Muharram 1447 H*
🎯 *Kajian Fiqih Kontemporer : Hukum Pengadaan Kuburan*
🎙️ *Pembicara : Ustadz Dr. Faisal Abdul Aziz, Lc., MA.*
======= =======
🗓️ *Ahad, 20 Juli 2025 / 24 Muharram 1447 H*
🎯 *Kajian Tafsir Tematik : Dialog Antara Orang Tua dan Anak dalam Al-Qur’an*
🎙️ *Pembicara : Ustadz Dr. Anung Al-Hamat, Lc., MPd.*
=======
🕔 *Ba’da Shubuh Pkl. 05.00 WIB – Selesai*
📌 *Masjid Baitul Haq – Puri Gading*
~~~~~~~
📱 *Gabung Live Streaming :*
YouTube :
bit.ly/YouTube_MasjidBaitulHaq
*Social Media*
Facebook :
bit.ly/Facebook_MasjidBaitulHaq
Instagram :
bit.ly/Instagram_MasjidBaitulHaq
*Contact us*
Email :
[email protected]
WhatsApp Center :
+62852-1327-4473
*Website*
______________________________
*DKM Baitul Haq, Puri Gading*
_Jl. Puri Gading Raya, Jatimelati, Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat – Indonesia_
🎯 *Kajian Tafsir Tematik : Dialog Antara Orang Tua dan Anak dalam Al-Qur’an*
🎙️ *Pembicara : Ustadz Dr. Anung Al-Hamat, Lc., MPd.*
Kajian sebelumnya dari beliau :
Kajian Hadits Tematik : Mengkaji Ulang Hadits-hadits Riba Lebih Dahsyat Daripada Zina
Salah satu bentuk kekalahan umat Islam adalah tidak hafal nama bulan dalam tahun Hijriyah.
Semoga dengan spirit tahun baru muharam ini maka kita bisa berusaha memperbaiki kejahilan dengan menuntut ilmu. Barang siapa Allah kehendaki orang itu menjadi baik maka Allah akan fahamkan terhadap agama.
Kisah dalam Alquran ada dialog. Baik antara ortu dengan anak, nabi dg kaumnya, dengan sesama dsb.
Jarak nabi syuaib dengan nabi Musa 400 tahun. Jadi kisah 2 wanita penggembala kambing yang bertemu dengan nabi Musa bukan anak nabi syuaib karena jaraknya terlalu jauh.
1. QS: 11 Hud : 42 h.226
وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِ ۗ وَنَادٰى نُوْحُ ِۨابْنَهٗ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ
wa Hiya taj•rii biHim fii maujinḡ~ kal-jibaal‚ wa naadaa nuuḥunib•naHuu wa kaana fii ma′ziliy yaa bunayyarkam~ ma′anaa wa laa takum~ ma′al-kaafiriiiin
Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, “Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.”
“Yabunaya” panggilan kepada anak dengan panggilan sayang.
QS: 11 Hud : 43 h.226
قَالَ سَاٰوِيْٓ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَاۤءِ ۗ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ
qoola sa`aawiiiii ilaa jabaliy ya′ṣhimunii minal-maaaaa`‚ qoola laa ′aaṣhimal-yauma min amrillaaHi illaa mar roḥim‚ wa ḥaala bainaHumal-mauju fa kaana minal-mughroqiiiin
Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan.
Dahsyatnya peristiwa, dari sisi ombaknya sebesar gunung, antara ayah yang sayang kepada anak tetapi anak nya membangkang. Allah perintahkan air ditelan bumi, langit langsung cerah, kapal nabi Nuh bersandar di bukit judiy.
Pelajaran : dialog ortu dengan anak. Jangan “bersama” dengan orang kafir. Ada harapan agar anaknya bersama nabi Nuh. Bukan “menjadi” kafir.
2. QS: 6 Al An am : 74 h.137
۞ وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَبِيْهِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصْنَامًا اٰلِهَةً ۚ اِنِّيْٓ اَرٰىكَ وَقَوْمَكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
wa idż qoola ib•rooHiimu li-abiiHi aazaro a tattakḣidżu aṣhnaaman aaliHaH‚ in~niiiii arooka wa qoumaka fii ḍholaalim~ mubiiiin
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar, ”Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”
Ayat ini menjadi hiburan bagi nabi, termasuk kita. Kalau nabi merasa resah gelisah dengan kaumnya yang menyembah berhala (di Ka’bah ada 360 berhala yang disembah kaumnya) maka dahulu nenek moyangnya juga ada yang menyembah berhala.
Tidak sepantasnya bagi nabi dan orang beriman mendoakan orang tua yang menyekutukan Allah (musyrik)
QS: 19 Maryam : 41 h.308
وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِبْرٰهِيْمَ ە ۗ اِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا
wadżkur fil-kitaabi ib•rooHiim‚ in~naHuu kaana ṣhiddiiqon nabiyyaa
Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan, seorang Nabi.
QS: 19 : 42 h.308
اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـًٔا
idż qoola li-abiiHi yaaaaa abati lima ta′budu maa laa yasma′u wa laa yub•ṣhiru wa laa yughnii ′anḡ~ka šyai`aa
(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?
QS: 19 : 43 h.308
يٰٓاَبَتِ اِنِّي قَدْ جَاۤءَنِيْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِيْٓ اَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا
yaaaaa abati in~nii qod jaaaaa-anii minal-′ilmi maa lam ya`tika fattabi′niiiii aHdika ṣhirooṭhon^ sawiyyaa
Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.
QS: 19 : 44 h.308
يٰٓاَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطٰنَ ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلرَّحْمٰنِ عَصِيًّا
yaaaaa abati laa ta′budišy-šyaiṭhoon‚ in~našy-šyaiṭhoona kaana lir-roḥmaani ′aṣhiyyaa
Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
QS: 19 : 45 h.308
يٰٓاَبَتِ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يَّمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطٰنِ وَلِيًّا
yaaaaa abati in~niiiii akḣoofu ay yamassaka ′adżaabum~ minar-roḥmaani fa takuuna lišy-šyaiṭhooni waliyyaa
Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.”
QS: 19 : 46 h.308
قَالَ اَرَاغِبٌ اَنْتَ عَنْ اٰلِهَتِيْ يٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهِ لَاَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِيْ مَلِيًّا
qoola a rooghibun an^ta ′an aaliHatii yaaaaa ib•rooHiim‚ la-il lam tan^taHi la-arjuman~naka waHjurnii maliyyaa
Dia (ayahnya) berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.”
QS: 19 : 47 h.308
قَالَ سَلٰمٌ عَلَيْكَ ۚ سَاَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّيْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ بِيْ حَفِيًّا
qoola salaamun ′alaiik‚ sa-astaghfiru laka robbii‚ in~naHuu kaana bii ḥafiyyaa
Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.
QS: 19 : 48 h.308
وَاَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَاَدْعُوْ رَبِّيْ ۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا
wa a′tazilukum wa maa tad•′uuna min^ duunillaaHi wa ad•′uu robbii ′asaaaaa allaaaaa akuuna bidu′aaaaa-i robbii šyaqiyyaa
Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.”
3. QS: 2 Al Baqoroh :132 h.20
وَوَصّٰى بِهَآ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُ ۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۗ
wa waṣhṣhoo biHaaaaa ib•rooHiimu baniiHi wa ya′quub•‚ yaa baniyya in~nallooHaṣhṭhofaa lakumud-diina fa laa tamuutun~na illaa wa an^tum~ muslimuuuun
Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
Wasiat posisinya jauh lebih tinggi dari instruksi. Hukum melaksanakan wasiat adalah wajib.
Wasiat terjadi dalam kejadian yang dahsyat.
4. QS: 37 As Safat : 102 h.449
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى ۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
fa lam~maa balagho ma′aHus-sa′ya qoola yaa bunayya in~niiiii aroo fil-manaami an~niiiii adżbaḥuka fan^ẓhur maadżaa taroo‚ qoola yaaaaa abatif′al maa tu`maru satajiduniiiii in šyaaaaa-allooHu minaṣh-ṣhoobiriiiin
Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Memanggil anak dengan panggilan yang penuh cinta. Ya bunaya.
Kata kerja telah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi, fiil mudore. Bermimpi menyembelihmu. Mimpinya para nabi adalah Wahyu.
Kedepankan untuk bermusyawarah. Ismail usianya saat itu 13 tahun. Ya abati, wahai ayahku yang tercinta. Panggilan ortu yang baik menyebabkan panggilan anak yang baik.
Hikmah menempatkan nomor surat Yusuf nomor 12 : anak nabi Ya’kub berjumlah 12. Nabi Yusuf diberi wahyu kalau gamis beliau dilemparkan ke wajah nabi Yakub pasti matanya akan bisa melihat.
a.QS: 12 Yusuf : 4 h.235
اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ
idż qoola yuusufu li-abiiHi yaaaaa abati in~nii ro-aitu aḥada ′ašyaro kaukabaw wašy-šyamsa wal-qomaro ro-aituHum lii saajidiiiin
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”
11 bintang adalah saudara nabi yusuf, matahari adalah ayahnya, bulan adalah ibunya.
QS: 12 : 5 h.236
قَالَ يٰبُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلٰٓى اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًا ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
qoola yaa bunayya laa taq•ṣhuṣh ru`yaaka ′alaaaaa ikḣwatika fa yakiiduu laka kaidaa‚ in~našy-šyaiṭhoona lil-in^saani ′aduwwum~ mubiiiin
Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.”
b. QS: 12 : 11 h.236
قَالُوْا يٰٓاَبَانَا مَالَكَ لَا تَأْمَنَّ۫ا عَلٰى يُوْسُفَ وَاِنَّا لَهٗ لَنَاصِحُوْنَ
qooluu yaaaaa abaanaa maa laka laa ta`man~naa ′alaa yuusufa wa in~naa laHuu lanaaṣhiḥuuuun
Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami semua menginginkan kebaikan baginya.
Karena mimpi itu maka nabi Yakub sangat memprotek nabi Yusuf. Kalau ingin mengajak bermain harus dengan ijinnya.
Hikmah : jangan menceritakan kebahagiaan kepada orang hasad. Orang hasad ingin agar kita tidak bahagia.
Gamis nabi Ibrohim tidak terbakar, diwariskan kepada nabi ishaq, diwariskan kepada nabi Yakub, diwariskan kepada nabi Yusuf
QS: 12 : 12 h.236
اَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَّرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
arsil-Hu ma′anaa ghoday yarta′ wa yal′ab wa in~naa laHuu laḥaafiẓhuuuun
Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senang dan bermain-main, dan kami pasti menjaganya.”
QS: 12 :13 h.236
قَالَ اِنِّيْ لَيَحْزُنُنِيْٓ اَنْ تَذْهَبُوْا بِهٖ وَاَخَافُ اَنْ يَّأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَاَنْتُمْ عَنْهُ غٰفِلُوْنَ
qoola in~nii layaḥzununii an^ tadż-Habuu biHii wa akḣoofu ay ya`kulaHudż-dżi`bu wa an^tum ′an-Hu ghoofiluuuun
Dia (Yakub) berkata, “Sesungguhnya kepergian kamu bersama dia (Yusuf) sangat menyedihkanku dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya.”
QS: 12 : 14 h.236
قَالُوْا لَىِٕنْ اَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ اِنَّآ اِذًا لَّخٰسِرُوْنَ
qooluu la-in akalaHudż-dżi`bu wa naḥnu ′uṣhbatun in~naaaaa idżal lakḣoosiruuuun
Sesungguhnya mereka berkata, “Jika dia dimakan serigala, padahal kami golongan (yang kuat), kalau demikian tentu kami orang-orang yang rugi.”
c. QS: 12 Yusuf : 17 h.237
قَالُوْا يٰٓاَبَانَآ اِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوْسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَاَكَلَهُ الذِّئْبُ ۚ وَمَآ اَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَّنَا وَلَوْ كُنَّا صٰدِقِيْنَ
qooluu yaaaaa abaanaaaaa in~naa dżaHab•naa nastabiqu wa taroknaa yuusufa ′in^da mataa′inaa fa akalaHudż-dżi`b•‚ wa maaaaa an^ta bimu`minil lanaa walau kun~naa ṣhoodiqiiiin
Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.”
QS: 12 : 18 h.237
وَجَاۤءُوْ عَلٰى قَمِيْصِهٖ بِدَمٍ كَذِبٍ ۗ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ اَنْفُسُكُمْ اَمْرًا ۗ فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗ وَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ
wa jaaaaa`uu ′alaa qomiiṣhiHii bidaminḡ~ kadżib•‚ qoola bal sawwalat lakum an^fusukum amroo‚ fa ṣhob•run^ jamiil‚ wallooHul-musta′aanu ′alaa maa taṣhifuuuun
Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Yakub) berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”
d. QS: 12 Yusuf : 63 h.242
فَلَمَّا رَجَعُوْٓا اِلٰٓى اَبِيْهِمْ قَالُوْا يٰٓاَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَاَرْسِلْ مَعَنَآ اَخَانَا نَكْتَلْ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
fa lam~maa roja′uuuuu ilaaaaa abiiHim qooluu yaaaaa abaanaa muni′a min~nal-kailu fa arsil ma′anaaaaa akḣoonaa naktal wa in~naa laHuu laḥaafiẓhuuuun
Maka ketika mereka telah kembali kepada ayahnya (Yakub) mereka berkata, “Wahai ayah kami! Kami tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami mendapat jatah, dan kami benar-benar akan menjaganya.”
QS: 12 : 64 h.243
قَالَ هَلْ اٰمَنُكُمْ عَلَيْهِ اِلَّا كَمَآ اَمِنْتُكُمْ عَلٰٓى اَخِيْهِ مِنْ قَبْلُ ۗ فَاللّٰهُ خَيْرٌ حٰفِظًا وَّهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ
qoola Hal aamanukum ′alaiHi illaa kamaaaaa amin^tukum ′alaaaaa akḣiiHi minḡ~ qob•l‚ fallooHu kḣoirun ḥaafiẓhow wa Huwa ar-ḥamur-rooḥimiiiin
Dia (Yakub) berkata, “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?” Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.
QS: 12 : 65 h.243
وَلَمَّا فَتَحُوْا مَتَاعَهُمْ وَجَدُوْا بِضَاعَتَهُمْ رُدَّتْ اِلَيْهِمْ ۗ قَالُوْا يٰٓاَبَانَا مَا نَبْغِيْ ۗ هٰذِهٖ بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ اِلَيْنَا وَنَمِيْرُ اَهْلَنَا وَنَحْفَظُ اَخَانَا وَنَزْدَادُ كَيْلَ بَعِيْرٍ ۗ ذٰلِكَ كَيْلٌ يَّسِيْرٌ
wa lam~maa fataḥuu mataa′aHum wajaduu biḍhoo′ataHum ruddat ilaiHim‚ qooluu yaaaaa abaanaa maa nab•ghii‚ HaadżiHii biḍhoo′atunaa ruddat ilainaa wa namiiru aHlanaa wa naḥfaẓhu akḣoonaa wa nazdaadu kaila ba′iir‚ dżaalika kailuy yasiiiir
Dan ketika mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan barang-barang (penukar) mereka dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Apalagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kita akan dapat memberi makan keluarga kita, dan kami akan memelihara saudara kami, dan kita akan mendapat tambahan jatah (gandum) seberat beban seekor unta. Itu suatu hal yang mudah (bagi raja Mesir).”
QS: 12 : 66 h.243
قَالَ لَنْ اُرْسِلَهٗ مَعَكُمْ حَتّٰى تُؤْتُوْنِ مَوْثِقًا مِّنَ اللّٰهِ لَتَأْتُنَّنِيْ بِهٖٓ اِلَّآ اَنْ يُّحَاطَ بِكُمْ ۚ فَلَمَّآ اٰتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللّٰهُ عَلٰى مَا نَقُوْلُ وَكِيْلٌ
qoola lan ursilaHuu ma′akum ḥattaa tu`tuuni mautṡiqom~ minallooHi lata`tun~nanii biHiiiii illaaaaa ay yuḥaaṭho bikum‚ fa lam~maaaaa aatauHu mautṡiqoHum qoolallooHu ′alaa maa naquulu wakiiiil
Dia (Yakub) berkata, “Aku tidak akan melepaskannya (pergi) bersama kamu, sebelum kamu bersumpah kepadaku atas (nama) Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung (musuh).” Setelah mereka mengucapkan sumpah, dia (Yakub) berkata, “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan.”
QS: 12 : 67 h.243
وَقَالَ يٰبَنِيَّ لَا تَدْخُلُوْا مِنْۢ بَابٍ وَّاحِدٍ وَّادْخُلُوْا مِنْ اَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ ۗ وَمَآ اُغْنِيْ عَنْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍ ۗ اِنِ الْحُكْمُ اِلَّا لِلّٰهِ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ
wa qoola yaa baniyya laa tad•kḣuluu mim~ baabiw waaḥidiw wad•kḣuluu min ab•waabim~ mutafarriqoH‚ wa maaaaa ughnii ′anḡ~kum~ minallooHi min^ šyaii`‚ inil-ḥukmu illaa lillaaH‚ ′alaiHi tawakkaltu wa ′alaiHi falyatawakkalil-mutawakkiluuuun
Dan dia (Yakub) berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda; namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula bertawakallah orang-orang yang bertawakal.”
e. QS: 12 Yusuf : 81 h.245
اِرْجِعُوْٓا اِلٰٓى اَبِيْكُمْ فَقُوْلُوْا يٰٓاَبَانَآ اِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ ۚ وَمَا شَهِدْنَآ اِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حٰفِظِيْنَ
irji′uuuuu ilaaaaa abiikum fa quuluu yaaaaa abaanaaaaa in~nab•naka saroq•‚ wa maa šyaHid•naaaaa illaa bimaa ′alimnaa wa maa kun~naa lil-ghoibi ḥaafiẓhiiiin
Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui dan kami tidak mengetahui apa yang di balik itu.
QS: 12 : 82 h.245
وَسْـَٔلِ الْقَرْيَةَ الَّتِيْ كُنَّا فِيْهَا وَالْعِيْرَ الَّتِيْٓ اَقْبَلْنَا فِيْهَا ۗ وَاِنَّا لَصٰدِقُوْنَ
was-alil-qoryatallatii kun~naa fiiHaa wal-′iirollatii aq•balnaa fiiHaa‚ wa in~naa laṣhoodiquuuun
Dan tanyalah (penduduk) negeri tempat kami berada, dan kafilah yang datang bersama kami. Dan kami adalah orang yang benar.”
QS: 12 : 83 h.245
قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ اَنْفُسُكُمْ اَمْرًا ۗ فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۗ عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّأْتِيَنِيْ بِهِمْ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
qoola bal sawwalat lakum an^fusukum amroo‚ fa ṣhob•run^ jamiil‚ ′asallooHu ay ya`tiyanii biHim jamii′aa‚ in~naHuu Huwal-′aliimul-ḥakiiiim
Dia (Yakub) berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan (yang buruk) itu. Maka (kesabaranku) adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sungguh, Dialah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”
QS: 12 : 84 h.245
وَتَوَلّٰى عَنْهُمْ وَقَالَ يٰٓاَسَفٰى عَلٰى يُوْسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنٰهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيْمٌ
wa tawallaa ′an-Hum wa qoola yaaaaa asafaa ′alaa yuusufa wab•yaḍhḍhot ′ainaaHu minal-ḥuzni fa Huwa kaẓhiiiim
Dan dia (Yakub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia diam menahan amarah (terhadap anak-anaknya).
QS: 12 : 85 h.245
قَالُوْا تَاللّٰهِ تَفْتَؤُا تَذْكُرُ يُوْسُفَ حَتّٰى تَكُوْنَ حَرَضًا اَوْ تَكُوْنَ مِنَ الْهَالِكِيْنَ
qooluu tallooHi tafta-u tadżkuru yuusufa ḥattaa takuuna ḥaroḍhon au takuuna minal-Haalikiiiin
Mereka berkata, “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau (mengidap) penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa.”
QS: 12 : 86 h.245
قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
qoola in~namaaaaa ašykuu batṡtṡii wa ḥuzniiiii ilallooHi wa a′lamu minallooHi maa laa ta′lamuuuun
Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.
QS: 12 : 87 h.246
يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ
yaa baniyyadż-Habuu fa taḥassasuu miy yuusufa wa akḣiiHi wa laa tai-asuu mir rouḥillaaH‚ in~naHuu laa yai-asu mir rouḥillaaHi illal-qoumul-kaafiruuuun
Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”
f. QS: 12 : Yusuf : 94 h.246
وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيْرُ قَالَ اَبُوْهُمْ اِنِّيْ لَاَجِدُ رِيْحَ يُوْسُفَ لَوْلَآ اَنْ تُفَنِّدُوْنِ
wa lam~maa faṣholatil-′iiru qoola abuuHum in~nii la-ajidu riiḥa yuusufa lau laaaaa an^ tufan~niduuuun
Dan ketika kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir), ayah mereka berkata, “Sesungguhnya Aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).”
QS: 12 : 95 h.246
قَالُوْا تَاللّٰهِ اِنَّكَ لَفِيْ ضَلٰلِكَ الْقَدِيْمِ
qooluu tallooHi in~naka lafii ḍholaalikal-qodiiiim
Mereka (keluarganya) berkata, “Demi Allah, sesungguhnya engkau masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.”
QS: 12 : 96 h.247
فَلَمَّآ اَنْ جَاۤءَ الْبَشِيْرُ اَلْقٰىهُ عَلٰى وَجْهِهٖ فَارْتَدَّ بَصِيْرًا ۗ قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ ۙ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
fa lam~maaaaa an jaaaaa-al-bašyiiru alqooHu ′alaa waj-HiHii fartadda baṣhiiroo‚ qoola a lam aqul lakum in~niiiii a′lamu minallooHi maa laa ta′lamuuuun
Maka ketika telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diusapkannya (baju itu) ke wajahnya (Yakub), lalu dia dapat melihat kembali. Dia (Yakub) berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
QS: 12 : 97 h.247
قَالُوْا يٰٓاَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَآ اِنَّا كُنَّا خٰطِـِٕيْنَ
qooluu yaaaaa abaanastaghfir lanaa dżunuubanaaaaa in~naa kun~naa kḣooṭhi`iiiin
Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa).”
QS: 12 : 98 h.247
قَالَ سَوْفَ اَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيْ ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
qoola saufa astaghfiru lakum robbii‚ in~naHuu Huwal-ghofuurur-roḥiiiim
Dia (Yakub) berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sungguh, Dia Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
g. QS: 12 : 99 h.247
فَلَمَّا دَخَلُوْا عَلٰى يُوْسُفَ اٰوٰٓى اِلَيْهِ اَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوْا مِصْرَ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَ ۗ
fa lam~maa dakḣoluu ′alaa yuusufa aawaaaaa ilaiHi abawaiHi wa qoolad•kḣuluu miṣhro in šyaaaaa-allooHu aaminiiiin
Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia merangkul (dan menyiapkan tempat untuk) kedua orang tuanya seraya berkata, “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.”
QS: 12 : 100 h.247
وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهٗ سُجَّدًا ۚ وَقَالَ يٰٓاَبَتِ هٰذَا تَأْوِيْلُ رُءْيَايَ مِنْ قَبْلُ ۖ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّيْ حَقًّا ۗ وَقَدْ اَحْسَنَ بِيْٓ اِذْ اَخْرَجَنِيْ مِنَ السِّجْنِ وَجَاۤءَ بِكُمْ مِّنَ الْبَدْوِ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ نَّزَغَ الشَّيْطٰنُ بَيْنِيْ وَبَيْنَ اِخْوَتِيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ لَطِيْفٌ لِّمَا يَشَاۤءُ ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
wa rofa′a abawaiHi ′alal-′aršyi wa kḣorruu laHuu sujjadaa‚ wa qoola yaaaaa abati Haadżaa ta`wiilu ru`yaaya minḡ~ qob•lu qod ja′alaHaa robbii ḥaqqoo‚ wa qod aḥsana biiiii idż akḣrojanii minas-sij•ni wa jaaaaa-a bikum~ minal-bad•wi mim~ ba′di an nazaghošy-šyaiṭhoonu bainii wa baina ikḣwatii‚ in~na robbii laṭhiiful limaa yašyaaaaa`‚ in~naHuu Huwal-′aliimul-ḥakiiiim
Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.
h. QS: 12 Yusuf : 101 h.247
۞ رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِ ۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ
robbi qod aataitanii minal-mulki wa ′allamtanii min^ ta`wiilil-aḥaadiitṡ‚ faaṭhiros-samaawaati wal-arḍh‚ an^ta waliyyii fid-dun-yaa wal-aakḣiroH‚ tawaffanii muslimaw wa al-ḥiq•nii biṣh-ṣhooliḥiiiin
Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.”
i. QS: 12 Yusuf : 29 h.238
يُوْسُفُ اَعْرِضْ عَنْ هٰذَا وَاسْتَغْفِرِيْ لِذَنْۢ بِكِ ۖ اِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخٰطِـِٕيْنَ
yuusufu a′riḍh ′an Haadżaa wastaghfirii lidżam~biki in~naki kun^ti minal-kḣooṭhi`iiiin
Wahai Yusuf! ”Lupakanlah ini, dan (istriku) mohonlah ampunan atas dosamu, karena engkau termasuk orang yang bersalah.”
j. QS: 2 Al Baqarah : 133 h.20
اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُ ۙ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْ ۗ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤىِٕكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
am kun^tum šyuHadaaaaa-a idż ḥaḍhoro ya′quubal-mautu idż qoola libaniiHi maa ta′buduuna mim~ ba′dii‚ qooluu na′budu ilaaHaka wa ilaaHa aabaaaaa-ika ib•rooHiima wa ismaa′iila wa is-ḥaaqo ilaaHaw waaḥidaa‚ wa naḥnu laHuu muslimuuuun
Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.”
6. QS: 28 Al Qosos : 26 h.388
قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ اِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ
qoolat iḥdaaHumaa yaaaaa abatista`jir-Hu in~na kḣoiro manista`jartal-qowiyyul-amiiiin
Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”
7. QS: 31 Lukman : 13 h.412
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
wa idż qoola luq•maanu lib•niHii wa Huwa ya′iẓhuHuu yaa bunayya laa tušyrik billaaH‚ in~našy-šyirka laẓhulmun ′aẓhiiiim
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
QS: 31 : 14 h.412
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَ ۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
wa waṣhṣhoinal-in^saana biwaalidaiiH‚ ḥamalat-Hu um~muHuu waHnan ′alaa waHniw wa fiṣhooluHuu fii ′aamaini anišykur lii wa liwaalidaiik‚ ilayyal-maṣhiiiir
Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.
QS: 31 : 15 h.412
وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖ وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّ ۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
wa in^ jaaHadaaka ′alaaaaa an^ tušyrika bii maa laisa laka biHii ′ilmun^ fa laa tuṭhi′Humaa wa ṣhooḥib-Humaa fid-dun-yaa ma′ruufaw wattabi′ sabiila man anaaba ilayy‚ tṡum~ma ilayya marji′ukum fa unabbi-ukum~ bimaa kun^tum ta′maluuuun
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
QS: 31 : 16 h.412
يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ
yaa bunayya in~naHaaaaa in^ taku mitṡqoola ḥabbatim~ min kḣordalin^ fa takun^ fii ṣhokḣrotin au fis-samaawaati au fil-arḍhi ya`ti biHallooH‚ in~nallooHa laṭhiifun kḣobiiiir
(Lukman berkata), ”Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti.
QS: 31 : 17 h.412
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
yaa bunayya aqimiṣh-ṣholaata wa`mur bil-ma′ruufi wan-Ha ′anil-munḡ~kari waṣhbir ′alaa maaaaa aṣhoobak‚ in~na dżaalika min ′azmil-umuuuur
Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.
QS: 31 : 18 h.412
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ ۚ
wa laa tuṣho′′ir kḣoddaka lin~naasi wa laa tamšyi fil-arḍhi maroḥaa‚ in~nallooHa laa yuḥibbu kulla mukḣtaalin^ fakḣuuuur
Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.
QS: 31 : 19 h.412
وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ
waq•ṣhid fii mašy-yika waghḍhuḍh min^ ṣhoutik‚ in~na anḡ~karol-aṣhwaati laṣhoutul-ḥamiiiir
Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
8. QS: 19 Maryam : 29 h.307
فَاَشَارَتْ اِلَيْهِ ۗ قَالُوْا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِى الْمَهْدِ صَبِيًّا
fa ašyaarot ilaiiH‚ qooluu kaifa nukallimu manḡ~ kaana fil-maHdi ṣhobiyyaa
Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”
QS: 19 : 30 h.307
قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗ اٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ
qoola in~nii ′ab•dullooH‚ aataaniyal-kitaaba wa ja′alanii nabiyyaa
Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.
QS: 19 : 31 h.307
وَّجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُ ۖ وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ۖ
wa ja′alanii mubaarokan aina maa kun^tu wa auṣhoonii biṣh-ṣholaati waz-zakaati maa dumtu ḥayyaa
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
QS: 19 : 32 h.307
وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا
wa barrom~ biwaalidatii wa lam yaj•′alnii jabbaaron^ šyaqiyyaa
dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
QS: 19 : 33 h.307
وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا
was-salaamu ′alayya yauma wulittu wa yauma amuutu wa yauma ub•′atṡu ḥayyaa
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
9. QS: 28 Al Qosos : 11 h.386
وَقَالَتْ لِاُخْتِهٖ قُصِّيْهِ ۗ فَبَصُرَتْ بِهٖ عَنْ جُنُبٍ وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ۙ
wa qoolat li-ukḣtiHii quṣhṣhiiH‚ fa baṣhurot biHii ′an^ junubiw wa Hum laa yašy′uruuuun
Dan dia (ibunya Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, “Ikutilah dia (Musa).” Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya.
10. QS: 46 Al Ahqaf : 17 h.504
وَالَّذِيْ قَالَ لِوَالِدَيْهِ اُفٍّ لَّكُمَآ اَتَعِدَانِنِيْٓ اَنْ اُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُوْنُ مِنْ قَبْلِيْ ۚ وَهُمَا يَسْتَغِيْثٰنِ اللّٰهَ وَيْلَكَ اٰمِنْ ۖ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ ۚ فَيَقُوْلُ مَا هٰذَآ اِلَّآ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ
walladżii qoola liwaalidaiHi uffil lakumaaaaa ata′idaaniniiiii an ukḣroja wa qod kḣolatil-quruunu minḡ~ qob•lii‚ wa Humaa yastaghiitṡaanillaaHa wailaka aamin in~na wa′dallooHi ḥaqq•‚ fa yaquulu maa Haadżaaaaa illaaaaa asaaṭhiirul-awwaliiiin
Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, “Ah.” Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan (dari kubur), padahal beberapa umat sebelumku telah berlalu? Lalu kedua orang tuanya itu memohon pertolongan kepada Allah (seraya berkata), “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu benar.” Lalu dia (anak itu) berkata, “Ini hanyalah dongeng orang-orang dahulu.”
dialog ibu dengan anak hanya 2 :
Ibu nabi Musa
Maryam
Yang paling banyak adalah dialog anak dengan ayah.
Kalau sedang sedih bacalah surah Yusuf.
Pertanyaan :
Anak memasukan ibunya ke panti ?
Orang tua kembali kekanak kanak. Anak tidak bisa merawat. Memasukan ke panti, termasuk durhaka.
Hadits : ada 3 golongan yang tidak akan diajak bicara Allah, tidak akan disucikan, di hari akhir, salah satunya seorang anak yang tidak suka dengan orang tuanya.
Sayangi ortu dalam kondisi apapun.
Al ahqof : 17
QS: 46 h.504
وَالَّذِيْ قَالَ لِوَالِدَيْهِ اُفٍّ لَّكُمَآ اَتَعِدَانِنِيْٓ اَنْ اُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُوْنُ مِنْ قَبْلِيْ ۚ وَهُمَا يَسْتَغِيْثٰنِ اللّٰهَ وَيْلَكَ اٰمِنْ ۖ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ ۚ فَيَقُوْلُ مَا هٰذَآ اِلَّآ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ
walladżii qoola liwaalidaiHi uffil lakumaaaaa ata′idaaniniiiii an ukḣroja wa qod kḣolatil-quruunu minḡ~ qob•lii‚ wa Humaa yastaghiitṡaanillaaHa wailaka aamin in~na wa′dallooHi ḥaqq•‚ fa yaquulu maa Haadżaaaaa illaaaaa asaaṭhiirul-awwaliiiin
Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, “Ah.” Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan (dari kubur), padahal beberapa umat sebelumku telah berlalu? Lalu kedua orang tuanya itu memohon pertolongan kepada Allah (seraya berkata), “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu benar.” Lalu dia (anak itu) berkata, “Ini hanyalah dongeng orang-orang dahulu.”
Link YouTube hari ini :




5. Nabi Ya’qub

